9 April 2014" sebuah tanggal yang sedang ditunggu oleh masyrakat Indonesia terutama para calon-calon legislatif. Sebuah pesta pemilu dimana akan terjadi pergantian pemimpin untuk negri ini. PEMIMPIN ?
"Lantas siapa yang akan jadi pemimpin nanti,setelah menjadi pemimpin maka perubahan baik apa yang dapat ia lakukan untuk negri ini ?" semua orang bertanya-tanya. Beberapa orang mulai memikirkan agar dapat memilih yang terbaik namun sebagian dari mereka juga mulai sibuk berkampanye,menyuarakan keunggulan partai masing-masing,mengeluarkan data yang tidak diketahui kevalidannya,menguak data-data lama,membongkar keburukan lama tanpa menyebarkan perubahan baik yang telah terjadi,pembodohan publik mulai dilakukan,beberapa orang mulai termakan omongan,terhipnotis oleh rayuan.
Dan aku disini hanya dapat tertawa,tentu tawa ini bukan suatu tawa kebahagian,tawa ini adalah penyamaran dari kesedihan,sedih yang teramat sangat dalam,terluka tanpa goresan senjata,menangis tanpa air mata,hanya ada tawa dusta yang tercipta.
Mengapa tawa ini menjadi sebuah luka ?
Ya bagaimana tidak,saudara-saudara ku yang sebangsa,setanah air,yang berada dikepulauan riau tepatnya sedang kesulitan untuk bertahan hidup,mereka bukan korban busung lapar,bukan korban gizi buruk,bukan juga korban bencana erupsi gunung berapi mereka bukan korban dari murka sang Ilahi,mereka adalah korban dari keserakahan dan ketamakan penghuni muka bumi. Hal yang lebih parah dari kelaparan dan kedinginan kini tengah mereka rasakan,mereka kini sedang kehausan. Tidak,tentu bukan kehausan karena kurangnya air bersih ini lebih parah dari itu mereka sedang kehausan OKSIGEN kehausan udara bersih yang seharusnya dapat mereka hirup dengan mudah guna mampu bertahan hidup.
Lucu bukan ? Bagaimana mungkin seorang manusia dapat hidup tanpa bernapas dengan oksigen. Kalian pikir mereka ikan ? .
Betapa prihatinnya negri ini bahkan oksigen pun mulai habis atau jangan-jangan selama ini bukan hayan hutan yang diperjual belikan namun oksigen juga mungkin dieksport keluar .
Mungkin anda bingung "hutan mana yang diperjual belikan ?". Bukan lahannya yang diperjual belikan namun isi dari hutan tersebut. Pohon-pohon besar itu,pohon yang dapat menyejukan itu,pohon pohon yang rela menghirup gas beracun tanpa kita minta,tanpa dapat ucapan terimakasih dan pujian,tanpa meminta kita untuk menyiramnya setiap hari. Dia tetap hidup tanpa itu semua dia tidak minta dilindungi,dia tidak minta untuk dijaga,dia tetap tegar berdiri tanpa kita meminta. Lalu apa yang kita lakukan,yang kita lakukan adalah meremehkannya. Entah sudah berapa banyak kertas yang kita hasilkan sebagai limbah,berapa banyak kertas yang sudah terbuang tanpa penggunaan maksimal ?
Ya mereka Pohon pohon itu ditebang semaunya namun dikatakan legal karena adanya perizinan,padahal apa yang kita dapatkan dari pabrik-pabrik raksasa tersebut hanya sebagian penghasilan mereka yang katanya masuk sebagai "pajak negara".
Tanda tanya besar muncul dibenak kita,lalu apa kaitannya hutan ini dengan pesta pemilu yang saya ceritakan tadi.
Tentu ada,tanpa saya beritahu anda semua pasti sudah tahu bahwa untuk menjadi pemimpin diperlukan komitmen yang kuat karena saat menjadi pemimpin ada banyak amanah dan tanggung jawab yang harus diemban. Sebenarnya saya sedikit heran "kenapa orang-orang berbondong-bondong ingin menjadi pemimpin padahal sangat jelas tanggung jawab pemimpin sangatlah besar" itu satu pertanyaan saya. Lalu saya mencoba berpikir positif "Oh mungkin mereka merasa yakin atas potensi mereka,bahwa mereka dapat membangun negri ini menjadi lebih baik lagi"tidak berhenti disitu hati kecil saya bertanya lagi "Tapi dari sekian banyak calon pemimpin mengapa tidak ada yang bersimpati kepada salah satu kepulauan di Indonesia yaitu Riau,mengapa tak satupun dari mereka yang berani menyuarakan kesesakan warga riau,mengapa tak satu pun dari mereka menegur perusahaan perusahaan besar agar tidak membakar hutan milik kita,lalu sebenarnya apa yang mereka inginkan untuk menjadi seorang pemimpin sudah jelas terlihat ada amanah besar didepan mata mereka amanah untuk menyelamatkan rakyatnya yang menderita,jika bukan untuk mengambil tanggung jawab tersebut lalu untuk apa mereka memaksa untuk menjadi seorang pemimpin,apakah itu hanya untuk pencapaian dari sebuah cita,ataukah hanya untuk mengejar tahta dan harta ?".
Aku bingung,aku letih akan semua ini,aku mulai muak dan tidak percaya,aku mulai meragukan dan mulai mengecam,semua ini karena terlalu banyak pendusta yang terus berkata-kata. Tapi satu aku adalah seorang MAHASISWA !
Mahasiswa adalah generasi muda,generasi pendobrak bangsa dengan seribu karyanya,kami semua mahasiswa Indonesia seharusnya mampu menjaga apa yang negri ini miliki. Lewat sepenggal tulisan sederhana ini saya mengajak semua teman-teman di Indonesia untuk lebih peka terhadap keadaan lingkungan dan lebih peka dalam memilih. Kita sebagai manusia yang intelek seharusnya mampu memutuskan sesuatu dengan ketepatan pemikiran yang objektif. Mampu mengetahui mana yang harus lebih dulu disebarluaskan dan mana yang tidak.
Mari lindungi hutan,lindungi Riau dan warganya lindungi mereka dari serangan asap yang mematikan. Senjata yang tak pernah mampu digenggam namun mampu merusak pernapasan.
Lestarikan hutan kita,meski tak mampu menanam setidaknya jangan perbanyak sampah dari kertas untuk mengurangi produktifitas pabrik kertas !
Berbicara tanpa bergerak hanyalah dusta,jadi mari bersama lestarikan bumi kita !



0 komentar:
Posting Komentar