ALICE

ALICE
ardila's little secret

Kamis, 29 Oktober 2015

Jangan Bakar Hutan Ku untuk Sawit Mu

“Habis Bakar Terbitlah Sawit” istilah tersebut kini lebih tenar dari pada istilah aslinya. Kutipan tersebut berasal dari Kepala Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yaitu bapak Sutopo Purwo Nugroho melalui akun Twitternya. Kepala Data dan Informasi BNPB itu menyatakan bahwa “Lahan bekas kebakaran di Nyaru Menteng Palangkaraya sudah ditanami kelapa sawit. Habis bakar terbitlah sawit” tulis sutopo diakun twitter pribadinya.




    Lagi-lagi kelapa sawit menjadi tokoh utama dalam penyebab pembakaran hutan. Minyak yang dapat digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, industri farmasi, industri baja, dan kulit ini sudah sering menjadi alasan dalam pembakaran hutan. Banyaknya kegunaan minyak sawit dan mudahnya penanaman membuat industri minyak sawit dinilai sebagai industri paling efisien dan kompetitif dibandingkan industri lain. Hal tersebut juga dinyatakan oleh Ketua Kadin Bidang Agribisnis dan Pangan Franky O. Widjaja  “Industri minyak sawit memiliki produktivitas yang tinggi dan harga yang paling murah. Industri minyak sawit tidak boros menggunakan lahan dibanding industri lainnya yang membutuhkan lahan sekitar 8—10 kali lipat dibanding sawit untuk memproduksi volume minyak yang sama,” katanya.

    Besarnya peluang industri kelapa sawit menimbulkan masalah baru pada lingkungan hidup. Tidak patuhnya perusahaan dalam melakukan land cleaning dikarenakan biayanya yang lebih besar dan kurangnya pengawasan dari pemerintah terhadap perusahan serta kurangnya dukungan untuk  PLTB (Pembukaan Lahan Tanpa Bakar) merupakan beberapa penyebab terjadinya kebakaran hutan saat ini.  Mengutip CNN Indonesia sejauh ini polisi sudah menangani 256 laporan kasus yang mengakibatkan 49.325 hektar lahan terbakar secara keseluruhan. Hal ini tentu saja sangat merugikan masyarakat dan perekonomian Indonesia pasalnya dari sisi ekonomi, data menunjukkan kerugian sekitar 20 triliun rupiah dalam kurun waktu dua bulan. Selain masalah ekonomi masalah kesehatan adalah yang paling utama. Sekitar 40 juta jiwa kini tengah berada dalam kondisi sesak diselimuti kabut asap. Gangguan ISPA mulai menyerang para warga yang berada pada daerah kabut asap bahkan beberapa waktu lalu sebuah media cetak elektronik menyatakan terdapat 9 korban tewas akibat asap di Kalimantan. Adapun kerugian lainnya menurut Yuni Setio Rahayu dari LIPI yaitu terjadinya penyusutan keragaman hayati.   Kebakaran yang terjadi juga melepaskan gas karbon ke atmosfer. Berdasarkan data dari CIFOR karbondioksida yang terlepas diperkirakan berada pada kisaran 1,5 - 2 ton yang mampu meningkatkan laju kenaikan suhu bumi.
     Disamping banyaknya keuntungan dari industri kelapa sawit ini ternyata pembukaan lahan kelapa sawit ini membawa dampak yang cukup buruk pada lingkungan hidup. Sadar akan hal itu  Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)  hadir sebagai asosiasi yang terdiri dari berbagai organisasi dari berbagai sektor industri kelapa sawit (perkebunan, pemrosesan, distributor, industri manufaktur, investor, akademisi, dan LSM bidang lingkungan) yang bertujuan mengembangkan dan mengimplementasikan standar global untuk produksi minyak sawit berkelanjutan. RSPO didirikan tahun 2004 dengan kursi asosiasi berada di Zurich, Swiss, dan kesekretariatan berada di Kuala Lumpur, Malaysia dan kantor cabang di Jakarta. Organisasi ini diklaim telah memiliki 1000 anggota di lebih dari 50 negara. Adapun beberapa perusahaan yang tergabung dalam RSPO yaitu PT Perkebunan Nusantara III, Indonesian Palm Oil Producers Association (GAPKI) *, PT Agro Bukit, PT Agro Indomas, PT Inti Indosawit Subur, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk, PT SMART Tbk, PT Tunas Baru Lampung Tbk, Sawit Mas Group, Socfin Group (PT Socfindo & Socfinco SA) dan lainnya.  

     Sebagai konsumen kita juga mempunyai kewajiban untuk memilih produk yang baik. Baik untuk digunakan bagi tubuh kita dan baik bagi lingkungan disekitar kita. Konsumen yang membeli produk dengan asal-asalan tentu saja ikut menyumbang dalam perusakan hutan. Salah satu prinsip dari RSPO yang sangat sesuai dalam pelestarian hutan yaitu bertanggung jawab terhadap lingkungan dan konservasi kekayaan alam dan keanekaragaman hayati. Menjadi konsumen bijak itu perlu. Jika bukan kita yang memilih lalu siapa lagi.
    
    Ingat bumi ini sangat indah bahkan sebelum kita semua hadir. Tuhan menitipkan semuanya kepada kita agar kelak kita bisa menunjukan alam yang indah pada anak cucu kita namun jika sekarang saja pohon tinggal abunya, orang hutan dan gajah hanya tinggal nama lalu anak cucu kita akan melihat keindahan yang seperti apa? Jaga bumi mu dengan hal paling kecil yaitu menjadi konsumen yang bijak.


KONSUMEN BIJAK, BELI YANG BAIK!

Sumber Pustaka :