“Habis Bakar Terbitlah Sawit” istilah tersebut kini
lebih tenar dari pada istilah aslinya. Kutipan tersebut berasal dari Kepala Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB)
yaitu bapak Sutopo Purwo Nugroho melalui akun Twitternya. Kepala Data dan Informasi BNPB itu menyatakan bahwa “Lahan
bekas kebakaran di Nyaru Menteng Palangkaraya sudah ditanami kelapa sawit. Habis bakar terbitlah sawit” tulis sutopo diakun twitter pribadinya.
Lagi-lagi
kelapa sawit menjadi tokoh utama dalam penyebab pembakaran hutan. Minyak yang dapat digunakan sebagai
bahan baku minyak makan,
margarin, sabun, kosmetika, industri farmasi, industri baja, dan kulit ini sudah sering menjadi alasan
dalam pembakaran hutan. Banyaknya kegunaan
minyak sawit dan mudahnya penanaman membuat industri minyak sawit dinilai sebagai
industri paling efisien dan kompetitif dibandingkan industri lain. Hal tersebut
juga dinyatakan oleh Ketua Kadin Bidang Agribisnis dan Pangan Franky O. Widjaja
“Industri minyak sawit memiliki
produktivitas yang tinggi dan harga yang paling murah. Industri minyak sawit
tidak boros menggunakan lahan dibanding industri lainnya yang membutuhkan lahan
sekitar 8—10 kali lipat dibanding sawit untuk memproduksi volume minyak yang
sama,” katanya.
Besarnya peluang industri
kelapa sawit menimbulkan masalah baru pada lingkungan hidup. Tidak patuhnya perusahaan
dalam melakukan land cleaning dikarenakan
biayanya yang lebih besar dan kurangnya pengawasan dari pemerintah terhadap
perusahan serta kurangnya dukungan untuk PLTB (Pembukaan Lahan Tanpa Bakar) merupakan beberapa
penyebab terjadinya kebakaran hutan saat ini. Mengutip CNN Indonesia sejauh ini polisi sudah
menangani 256 laporan kasus yang mengakibatkan 49.325 hektar lahan terbakar secara
keseluruhan. Hal ini tentu saja sangat merugikan masyarakat dan perekonomian
Indonesia pasalnya dari sisi ekonomi, data menunjukkan kerugian sekitar 20
triliun rupiah dalam kurun waktu dua bulan. Selain masalah ekonomi masalah
kesehatan adalah yang paling utama. Sekitar 40 juta jiwa kini tengah berada
dalam kondisi sesak diselimuti kabut asap. Gangguan ISPA mulai menyerang para
warga yang berada pada daerah kabut asap bahkan beberapa waktu lalu sebuah
media cetak elektronik menyatakan terdapat 9 korban tewas akibat asap di
Kalimantan. Adapun kerugian lainnya menurut Yuni Setio Rahayu dari LIPI
yaitu terjadinya penyusutan keragaman hayati. Kebakaran yang terjadi juga melepaskan gas karbon
ke atmosfer. Berdasarkan data dari CIFOR karbondioksida yang terlepas
diperkirakan berada pada kisaran 1,5 - 2 ton yang mampu meningkatkan laju
kenaikan suhu bumi.
Disamping banyaknya
keuntungan dari industri kelapa sawit ini ternyata pembukaan lahan kelapa sawit
ini membawa dampak yang cukup buruk pada lingkungan hidup. Sadar akan hal
itu Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)
hadir sebagai asosiasi yang terdiri dari berbagai organisasi dari
berbagai sektor industri kelapa sawit (perkebunan, pemrosesan, distributor,
industri manufaktur, investor, akademisi, dan LSM bidang lingkungan) yang
bertujuan mengembangkan dan mengimplementasikan standar global untuk produksi minyak sawit berkelanjutan. RSPO didirikan tahun 2004 dengan
kursi asosiasi berada di Zurich, Swiss, dan kesekretariatan berada
di Kuala Lumpur, Malaysia dan kantor cabang di Jakarta. Organisasi ini diklaim telah memiliki 1000 anggota di
lebih dari 50 negara. Adapun beberapa perusahaan yang tergabung dalam RSPO yaitu
PT Perkebunan Nusantara III, Indonesian Palm Oil Producers Association (GAPKI) *, PT Agro Bukit, PT Agro Indomas, PT Inti Indosawit Subur, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk, PT SMART Tbk, PT Tunas Baru Lampung Tbk, Sawit Mas Group, Socfin Group (PT Socfindo & Socfinco SA) dan lainnya.
Sebagai konsumen kita juga mempunyai kewajiban
untuk memilih produk yang baik. Baik untuk digunakan bagi tubuh kita dan baik
bagi lingkungan disekitar kita. Konsumen yang membeli produk dengan asal-asalan
tentu saja ikut menyumbang dalam perusakan hutan. Salah satu prinsip dari RSPO yang
sangat sesuai dalam pelestarian hutan yaitu bertanggung jawab terhadap
lingkungan dan konservasi kekayaan alam dan keanekaragaman hayati. Menjadi konsumen
bijak itu perlu. Jika bukan kita yang memilih lalu siapa lagi.
Ingat bumi ini sangat indah bahkan sebelum kita
semua hadir. Tuhan menitipkan semuanya kepada kita agar kelak kita bisa menunjukan
alam yang indah pada anak cucu kita namun jika sekarang saja pohon tinggal
abunya, orang hutan dan gajah hanya tinggal nama lalu anak cucu kita akan
melihat keindahan yang seperti apa? Jaga bumi mu dengan hal paling kecil yaitu
menjadi konsumen yang bijak.
KONSUMEN BIJAK, BELI YANG BAIK!
Sumber Pustaka :

.jpg)

